free page hit counter

Mansinam, Jalan Terang untuk Harmoni Papua Dan Indonesia


Budi Saputra

Di berbagai literatur, Indonesia disebutkan sebagai negara yang kaya, mengingat di NKRI ini terdapat  beragam suku bangsa, ras, agama, adat dan budaya. Perekat kuatnya  adalah Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi hakikatnya tetap satu kesatuan. Sudahlah terdiri dari keberagaman tadi, negerinya juga  berpenduduk besar, kaya sumber daya alam, memiliki 700 lebih bahasa, dan terdiri dari beribu pulau yang mengagumkan dan dikenal di berbagai belahan dunia. 

Salah satu  keniscayaan dari saripati kemerdekaan negeri ini adalah toleransi. Ia adalah pilar sekaligus sebagai pohon raksasa yang ranum,  dan senantiasa setia memberikan ketentraman untuk sekalian penghuni yang berteduh di bawahnya. Toleransi tidak saja dipraktekkan, ditulis maupun diungkapkan dengan kata-kata. Tapi lebih dari itu, sebagai perekat persatuan dan penanda yang kekal, maka di berbagai penjuru negeri dibangunlah semacam simbol-simbol toleransi, perdamaian, maupun kerukunan.

Ada Gong Perdamaian Dunia yang terdapat di beberapa tempat seperti di Jepara, Bali dan Palu. Di Manado, Bukit Kasih hadir sebagai pusat keagamaan dan simbol dari keharmonisan umat beragama. Di sana  terdapat lima rumah ibadah yaitu Gereja Katolik, Gereja Kristen, Kuil Buddha, Masjid, dan Candi Hindu. Sementara di Indonesia Timur, tepatnya di Papua Barat, maka di sinilah tempat bersejarah yang sangat menarik untuk diulas. Pulau Mansinam, pulau yang terletak di wilayah Manokwari ini tidak saja menawarkan keindahan alam dan  daya tarik lainnya bagi para wisatawan. Namun lebih dari itu, bahwa Pulau Mansinam yang merupakan titik awal dan pusat penyebaran Injil pada masa lampau, tak ubahnya adalah jalan terang untuk menciptakan harmoni di tanah Papua maupun Indonesia.

Kisah Misionaris dan Perahu Kora-kora

Sejatinya, Mansinam yang memiliki  luas sekitar 410,97 hektar ini adalah tempat wisata religi dengan situs Pekabaran Injil yang terkenal di Papua. Mansinam  adalah tempat bersejarah sekaligus tempat awal mula jejak sublim  Injil masuk ke tanah Papua pada 5 Februari 1855. Dua misionaris dari Eropa  bernama Ottow dan Geissler, adalah tokoh penting dan tak terlupakan bagi umat Kristiani Papua.

Kedatangan Ottow dan Geissler  ke Mansinam tak terlepas dari manik-manik harmoni  toleransi yang tersimpul kuat pada masa silam. Kisah manis itu berawal dari Ternate pada tahun 1854. Kala itu, Ottow dan Geissler  sempat belajar dan memperdalam bahasa melayu, serta belajar mengkaji berbagai informasi tentang Papua. Selanjutnya Sultan Tidore yang  teritoriumnya juga meliputi wilayah Manokwari, memberikan surat jalan kepada Ottow dan Geissler serta memberikan tumpangan perahu kora-kora  menuju Mansinam. Meskipun berbeda latar belakang, hal itu serta merta tak jadi penghalang untuk menjalin benang-benang kebaikan di antara sesama cucu Adam. Semua mengalir bagaikan dingin  dan jernih mata air. Semua mengalir bagaikan sejuk udara.  

Patung Yesus Kristus setinggi 30 meter di Pulau Mansinam. Sumber: indonesiakaya.com
 

Dalam perkembangannya, misi mulia Ottow dan Geissler  di Mansinam serta merta membawa perubahan besar dan menjadi titik awal peradaban modern di Papua. Selain menorehkan dan menyebarkan nilai-nilai luhur Injil, mereka juga mengajari penduduk untuk  belajar bertukang, menenun, dan bidang kepandaian yang lain. Ibarat meneruka hutan belantara penuh semak belukar, ibarat meneruka tanah-tanah sepi penghuni, Ottow dan Geissler  begitu sabar, dan begitu hati-hati  mengkontruksi peradaban masyarakat yang kala itu masih kental dengan hukum rimba maupun perang  antar suku.  

Alhasil, berkat kesabaran dan pantang menyerah dari Ottow dan Geissler yang membawa misi mulia itu, maka Mansinam menjelma bagai mata air Injil yang mengalir ke berbagai wilayah Papua. Bersamaan dengan peradaban yang lebih baik dan modern, membawa derajat Papua ke tingkat yang lebih tinggi dan melanjutkan estafet harmoni toleransi yang pernah terjadi dari peristiwa penting Sultan Tidore, perahu kora-kora, dan misi Ottow dan Geissler di tanah Papua. 

Sebagai situs Pekabaran Injil yang bersejarah,  Mansinam pun mendapat tempat istimewa di hati masyarakat Papua. Untuk mengenang perjuangan Ottow dan Geissler sebagai guru peradaban di Papua, maka melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi Papua Nomor 140 Tahun 2008, tanggal 5 Februari dijadikan hari libur resmi sejak 2008. Sejak itu, rakyat di  tanah Papua menjadikan 5 Februari untuk berkumpul dan berdoa mendengar Firman Tuhan. 

Tidak sampai di situ, agar kesan relegiusitas Mansinam tetap terjaga dan menjadi daya tarik wisatawan, maka Mansinam pun direvitalisasi sedemikian rupa. Tahun 2014, presiden Indonesia kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono  meresmikan situs Pekabaran Injil di Papua yang ditandai dengan patung Kristus Raja setinggi 30 meter. Selain itu ada pula tugu peringatan kedatangan utusan Zending yang pertama pada 1855, dan juga ada fasilitas gereja.

Satu Tungku Tiga Batu     

Mansinam benar-benar menjadi rumah bersama antar umat beragama di Papua. Ini dibuktikan dengan adanya semangat gotong royong menjelang perayaan  HUT Pekabaran Injil yang jatuh setiap pada tanggal 5 Februari. ASN Pemprov Papua Barat beserta segenap elemen  lintas agama bahu membahu melakukan pembersihan agar perayaan nanti berlangsung lancar dan khidmat.  Dilansir dari Koreri, bahwa  Staf ahli Gubernur bidang pemerintahan yang juga tokoh Muslim di Papua barat, Ir Thamrin Payapo, M.H mengatakan, momen 5 Februari bukan milik umat Kristiani saja tetapi semua orang termasuk Muslim, karena proses hadirnya dua Zendeling di Pulau Mansinam melalui kesultanan Tidore akhirnya tabir keselamatan disampaikan di tanah Arfak, dan menyebar sampai ke seluruh tanah Papua.

Tugu Satu Tugu Tiga Batu di Fakfak, Papua Barat. Sumber: kumparan.com

Mansinam adalah simbol harmoni, simbol toleransi, dan simbol kedamaian yang telah mendarah daging dalam denyut  nadi kehidupan masyarakat Papua sejak dulu. Di Papua, ada filosofi yang dikenal dengan istilah Satu Tungku Tiga Batu. Filosofi ini menembus batas-batas perbedaan. Ia adalah perekat ikatan persaudaraan  dan emosional meskipun memiliki perbedaan dalam hal agama, suku maupun status sosial. Bahkan dalam pemerintahan, filosofi ini diterapkan dengan berpegang teguh pada makna tiga batu sebagai kekuatan, yakni Pemerintah, Adat, dan Agama.

Berbaur dan  saling kerja samanya antar umat beragama tidak saja terlihat saat persiapan perayaan Pekabaran Injil tiap tahunnya. Bahkan di Papua, semangat untuk menyukseskan suatu hajatan atau perayaan begitu tinggi. Tak ada waktu untuk melihat perbedaan hingga menimbukan perselisihan. Setiap perayaan hari besar keagamaan, maka masyarakat lintas agama menciptakan pilar harmoni dengan saling membaur, saling membantu dan mendukung acara atau perayaan tersebut. Hal ini  tak terkecuali   dalam hal membangun rumah ibadah  dan bidang pendidikan. Semua saling mendukung, dan tak ada sekat atau penolakan  untuk agama tertentu.

Dengan adanya harmoni yang diciptakan Mansinam selama ratusan tahun, begitu juga filosofi Satu Tungku Tiga Batu ini, maka ini telah menjadikan Papua sebegai tempat belajar atau percontohan pelajaran  toleransi antar umat beragama di Indonesia. Bahkan tahun 2021,  Propinsi Papua dan Papua Barat menduduki posisi dua dan empat dalam Nilai Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang dirilis Kementerian Agama RI.

Riwayat Mansinam; Dulu, Kini dan Nanti

Perayaan HUT Pekabaran Injil ke-168 tahun telah di depan mata. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bahwa perayaan ini akan  dihadiri oleh belasan ribu umat Kristiani yang memenuhi Mansinam. Sekali lagi, Mansinam adalah rumah bersama yang terus dijaga dalam keberagaman. Sejak dulu, nilai-nilai luhur kehidupan antara adat dan agama senantiasa terjalin kuat hingga kini dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Papua. Bahkan selain dikenal filosofi Satu Tungku Tiga  Batu, di Papua juga dikenal dengan filosofi Satu Rumah Empat Pintu. Di mana meskipun ada empat keyakinan dalam sebuah rumah, maka ini bukanlah masalah, karena  adanya  saling menghormati  dan mendukung pilihan masing-masing.

Salah satu sudut monument Ottow Geisssler.  Sumber: indonesiakaya.com

Mansinam hari ini adalah  sebuah kekuatan yang terus mengemuka  dan merangkul umat dari sejarah panjangnya. Berbagai potensi budaya, sejarah, maupun alamnya adalah bagian yang yang tak terpisahkan dari semangat perdamaian  di tanah Papua. Jangan pikir bahwa di Papua kerusuhan antar agama begitu mudah terjadi bagai rumput kering yang mudah terbakar. Sebab dengan adanya pencanangan zona integritas kerukunan umat beragama, pembangunan dialog antar umat beragama, dan penguatan toleransi berbasis kearifan lokal,  justru menjadi penopang kekuatan yang tidak mudah membakar sentimen keagamaan di Papua. Bahkan dengan  senantiasanya terjalin kedamaian, kerukunan, dan terciptanya pilar-pilar harmoni antar umat beragama, bukan tidak mungkin kelak Nilai Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Papua menjadi yang teratas di Indonesia, dan Mansinam terus berkembang menjadi ikon wisata yang terkenal di Papua, Indonesia, maupun mancanegara. 

Referensi Tulisan

Redaksi Solopos. 2014. Inilah Situs Pekabaran Injil Simbol Toleransi Islam-Kristen di Mansinam Manokwari. Diakses dari https://www.solopos.com/inilah-situs-pekabaran-injil-simbol-toleransi-islam-kristen-di-mansinam-manokwari-529544. Tanggal 27 Januari 2023.
Redaksi Koreri. 2023. ASN Pemprov Papua Barat Kerja Bakti di Pulau Mansinam, Sekda : Jangan Tiap Tahun Dibersihkan. Diakses dari https://koreri.com/2023/01/17/asn-pemprov-papua-barat-kerja-bakti-di-pulau-mansinam-sekda-jangan-tiap-tahun-dibersihkan/. Tanggal 27 Januari 2023.
Redaksi West Papua Tabloid. 2022. Belajar Toleransi dari Masyarakat Papua. Diakses dari https://westpapuatabloid.org/belajar-toleransi-dari-masyarakat-papua.html. Tanggal 27 Januari 2023.
Ismail Suardi Wekke. Agama, Persaudaraan, dan Ikatan Emosional: Harmoni Sosial Minoritas Muslim Papua Barat. Makalah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong.
Gilbert Lumoindong. Pulau Mansinam, Manokwari Papua Barat. Diakses dari  https://www.youtube.com/watch?v=JbFrk7awc8Q&t=299s. Channel Youtube Gilbert Lumoindong.  
 
Referensi Foto

Tripadvisor.co.id. Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat. Diakses pada  tanggal 27 Januari 2023.
Indonesiakaya.com. Patung Yesus Kristus setinggi 30 meter di Pulau Mansinam. Diakses pada tanggal 27 Januari 2023.
Kumpuran.com. Tugu Satu Tugu Tiga Batu di Fakfak, Papua Barat. Diakses pada tanggal 27 Januari 2023.
Indonesiakaya.com. Salah satu sudut monument Ottow Geisssler. Diakses pada tangal 27 Januari 2023.
Assalamualaikum, Salam sejahtera bagi kita semua. Perkenalkan nama saya adalah Budi Saputra. Sayalahir di Padang pada 20 April 1990. Saya adalah ayah dari tiga anak. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Sumatera Barat. Sejak tahun 2008 atau saat berusia 18 tahun, saya mulai menulis puisi di media massa dan pernah menulis salah satu  puisi yang  terbit itu di baju seorang kawan yang merayakan kelulusan masa SMK. Padahal puisi yang terbit itu adalah puisi pertama kali yang saya kirim untuk media massa, dan menerima honorium yang lumayan  kala itu.
Pada masa remaja, saya hobi bermain sepak bola. Namun di samping itu, dari kegemaran saya  membaca sastra di berbagai koran, dan buku pustaka dari kakak saya yang seorang reporter pelajar kala itu, maka mengantarkan saya memberanikan diri menulis dan mengikuti jejak kakak saya  yang tulisannya sering membuat saya termotivasi. Pokoknya nama saya harus ada di koran dan karya dibaca ribuan orang, begitulah prinsip saya kala itu.     
Selain gemar membaca, inspirasi menulis saya dapatkan dari denyut kehidupan. Alam Takambang Jadi Guru. Masa kecil saya lalui dengan sering keluar masuk ladang, mengembala sapi, dan menjual es lilin di tengah sengitnya suasana berburu babi. Selanjutnya kala tamat SMK dan kuliah, saya pernah merantau di Kota Batam sebagai buruh pabrik (2008-2009) dan guru di salah satu SMP swasta (2015-2017).
Hingga kini, saya tetap produktif menulis di media massa dan telah memenangi berbagai lomba kepenulisan tingkat daerah dan nasional. Tulisan saya berupa cerpen, puisi, esai, cerita anak, feature, artikel dimuat media massa  seperti Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Haluan Riau, Majalah Sabili, Jurnal Bogor, Lampung Post, Suara Pembaruan, Tabloid Kampus Medika, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Jurnal Nasional, Indo Pos, Batam Pos, Lombok Post, Tanjung Pinang Pos, Magrib.id, Marewai.com, Rakyat Sultra, Kompas, Kompas.id (digital), dan Koran Tempo.
Pada tahun 2011 saya pernah diundang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) 5 Palembang. Selanjutnya  PPN 6  di Jambi (2012), serta pada Ubud Writers and Readers Festival 2012 di Bali.
Sekarang ini saya bermukim di Pekanbaru-Riau sejak awal tahun 2021. Saya mengajar di salah satu SMA swasta dan mengampu sebagai guru Bahasa Indonesia.
Saya ucapkan terima kasih kepada Duta Damai Papua yang dibentuk di Manokwari pada tanggal 05-08 November 2022. Saya sangat mendukung Duta Damai Papua Barat untuk mengobarkan semangat perdamaian. Mengembangkan kreativitas tanpa batas dalam mencegah radikalisme, terorisme, intoleran, dan hal-hal yang dapat meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Dengan menyebarkan konten-konten positif yang mengarah ke perdamaian melalui internet secara arif dan penuh manfaat, maka diharapkan terlahirlah Papua damai yang menjadi inspirasi dan  tempat belajar toleransi bagi kota-kota lain di pelosok Indonesia.
Saya sangat tertarik dengan alam dan budaya Papua. Tapi sebelum jauh menulis tentang Papua melalui puisi maupun artikel ini, saya sejak remaja telah lama bersentuhan dengan ciri dan karakter Papua melalui sepakbola. Elie Aiboy, Erol FX Iba, Vendry Mofu  adalah beberapa nama putra Papua yang pernah memperkuat Semen Padang FC. Permainan yang cepat dan gesit menjadi ciri khas mereka dan mendapatkan tempat di hati sekalian insan sepakbola di Padang.      
 
Alamat               : Pekanbaru  
No. HP             : 085376744476
Email                 : [email protected]
Instagram          : saputra_budi20
 
 
 

Satu tanggapan untuk “Mansinam, Jalan Terang untuk Harmoni Papua Dan Indonesia”

  1. Hmm is anyone else having problems with the pictures on this blog loading?
    I’m trying to figure out if its a problem on my end or if it’s the blog.
    Any responses would be greatly appreciated.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *