free page hit counter

Cinta Kasih Dan Toleransi Pulau Mansinam


Terlihat potret sebuah patung Yesus. Gambar di atas diambil pada tanggal 17 Juni 2022 di Pulau Mansinam, yang letaknya sekitar 6 kilometer dari Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat. Perjalanan ke Pulau Mansinam memakan waktu tempuh kurang lebih lima belas menit menggunakan perahu dari kota Manokwari. Pulau Mansinam adalah pulau wisata rohani umat Kristen di Tanah Papua dan ditetapkan sebagai kota Injil karena di sinilah pertama kali Pekabaran Injil dimulai.

Pada 5 Februari 1855 sampai sekarang, tepat 168 tahun silam bertempat di Pulau Mansinam, dengan nama Tuhan para misionaris yang berasal dari Zending Jerman Penginjil, Ottow dan Geissler, dan selanjutnya bersama Pdt. F.J.L Van Hazelt, Jesrick, Bink, Wolders dan jajaran zendeling UZV lainnya menginjakkan kaki untuk melanjutkan pekerjaan zending Pengabaran Injil di Tanah Papua.

Mengasihi sesama manusia itulah yang dilakukan para misionaris selama hidupnya. Para misionaris yang sebenarnya tidak ada hubungan baik bangsa maupun tanah air dengan orang Papua. Di sinilah, bukti pertama Mansinam membawa damai dan toleransi dan menjadi rumah kita yang berasal dari bangsa mana pun. Selama beradab-abad orang Papua terisolasi dari dunia luar. Luar biasa! Landasannya tentu karena mengingat dan mempraktikkan amanat agung Tuhan Yesus yang berbunyi, “Kasihilah sesamamu manusia”. Hubungan sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa yang membuat para misionaris merasa terpanggil.

Sudah menjadi sejarah bahwa Ottow dan Geissler serta kawan-kawan misionaris lainnya, berhasil menyebarkan Injil, mengajar, mendidik, dan membina orang-orang Papua sehingga dapat keluar dari zona terisolasi dan mengejar ketertinggalan menuju era baru dan lebih beradab. Sehingga, orang Papua dapat ikut bertanding dan menyamai suku dan bangsa lain dalam berbagai hal.

Hal ini disebabkan Ottow dan Geissler serta kawan-kawannya misionaris mengawali dan mengembangkan hal-hal mendasar untuk mencapai kemajuan, yaitu : Injil, agama, kerohanian, karakter, pendidikan dan pengajaran. Hal tersebut dibuktikan sejak mulainya pekerjaan Pengabaran Injil di Tanah Papua, terlihat jelas adanya pembangunan gereja (rumah ibadah)  pertama dan sekolah Zending dan sekolah peradaban mulai dibuka. Sangat menyenangkan dan membanggakan bagi seluruh umat tanpa membedakan suku dan golongan dibuktikan oleh sejak awal berdirinya gereja pertama yakni GKI (Gereja Kristen Injili).

Tidak menerima Injil secara mentah, tetapi orang Papua melalui berkat yang diperoleh di Pulau Mansinam justru membuktikan bahwa perbedaan suku bukan penghalang untuk belajar mengenal dan meyakini Tuhan yang satu. Hal tersebut dibuktikan melalui pertolongan Tuhan, dengan berdirinya Gereja pertama, yang menjadi rumah pertama orang Kristen yang menerima segala suku di Tanah Papua.

GKI di Tanah Papua adalah suatu gereja yang bersifat oikumenis (campuran), dan bukan gereja suku. Oleh karena itu, anggota-anggota jemaat GKI berasal dari orang Papua sendiri dan orang-orang bukan Papua dari berbagai suku dan bangsa serta dari berbagai latar belakang keanggotaan gereja. (id.m.wikipedia.org)

Inilah bukti peran Mansinam yang pada awal dan akhirnya berperan menjadi tanah yang damai penuh toleransi. Tanpa memandang latar belakang suku, saling menerima perbedaan. Kehadiran dan keberadaan GKI di Tanah Papua adalah kehendak Tuhan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang nyata di tengah keberagaman. Sebab pendidikan dan pengajaran tentang keberagaman merupakan salah satu cara memajukan masyarakat. Dari sanalah lahir pengertian bahwa berbeda itu adalah warna. Warna yang memperindah bukan justru tampak menjadi pembeda. Warna yang saling melengkapi, apa yang tadinya tidak kita miliki, menjadi kita miliki.

Disamping gelar misionaris, khusus kepada Ottow dan Geissler diberi gelar “Rasul Papua” yang benar-benar dianggap sangat berjasa bagi orang Papua. Ini merupakan fakta yang diakui oleh orang-orang Papua kepada tokoh-tokoh yang berjasa dan berpotensi untuk bangsa di bidang religi dan pendidikan, sekalipun yang berjasa adalah bangsa asing. Bahkan sangkin menghormatinya, Pemerintah di Tanah Papua menetapkan  5 Februari sebagai  tanggal memperingati hari jadi Pengabaran Injil di Tanah Papua.

Dalam rangka menyongsong usia 168 tahun Pekabaran Injil di Tanah Papua, belum terlambat untuk mengevaluasi diri untuk hari yang lebih baik kedepannya bagi gereja maupun masyarakat. GKI di Tanah Papua, sebagai hasil pekerjaan Pekabaran Injil yang diawali oleh kehadiran para misionaris di Tanah Papua, kiranya harus bersatu dan semakin menyatu merayakan HUT-nya yang ke-168 Tahun, sekalipun sekarang sudah banyak gereja dari berbagai sinode gereja di Tanah Papua yang melibatkan berbagai latar belakang tetapi harus tetap mengingat bahwa tujuan awal dan akhirnya adalah Tuhan.

Kurang tepat rasanya jika hanya satu sinode gereja saja yang mengklaim diri bahwa tahun 2023 ini adalah HUT-nya yang ke-168 Tahun. Banyak yang menganggap bahwa tanggal 5 Februari itu hanya tanggal kemenangan untuk sinode gereja tertentu. Sebenarnya, perlu diketahui bahwa tanggal tersebut adalah hari kemenangan bagi seluruh sinode gereja yang ada di Tanah Papua. Tanpa damai dari Mansinam pada tanggal 5 Februari Tahun 1855 mungkin kepercayaan kita tidak akan tumbuh.

Sebelumnya belum ada GKITP, GPI, GKPI, dan lain-lain. Mari masing-masing sinode saling menghormati layaknya saudara karena kita masih serumpun, saling menghormati, saling menghargai, karena kita menyembah Allah yang sama yakni “Allah Tritunggal”.

Mansinam menjadi saksi peradaban kita umat Kristen di Tanah Papua terlepas dari berbagai latar belakang sinode gereja kita. Marilah kita sama-sama memeriahkan hari kemenangan kita, hari semua sinode gereja mengenal dan menerima Tuhan sebagai Juruslamat kita yang kafir ini. Tentu saja Mansinam adalah rumah kita bersama, rumahnya orang Kristen terlepas dari sinode gereja yang kita ikuti atau bahkan rumah bagi agama lainnya. Dari sanalah sejarah Kristen yang mengasihi itu kita kenal. Berkat pertama yang kita terima dan kita akui dari Tuhan berasal dari sana. Dari sanalah lahirnya pengakuan Tuhan memberkati Tanah Papua yang kita terima dan rasakan hingga saat ini.

Kasihilah sesamamu manusia, sesama Kristen, sesamamu yang punya sinode masing-masing, kasihi seperti mengasihi dirimu sendiri, mengasihi sinodemu sendiri. Bahkan siapa pun diluar gerejamu, sukumu, bangsamu, agamamu, warna kulitmu, termasuk dirimu sendiri.

Misionaris perpanjangan tangan Tuhan itu, Ottow dan Geissler, Rasul Papua itu, sudah meninggalkan keteladanan dalam kasih mengasihi orang banyak melalui Pulau Mansinam, mengasihi sesama manusia, kepada orang-orang Papua, dan kepada siapa pun. Orang-orang percaya bersatu di dalam Kristus Tuhan.

Pulau Mansinam adalah bentuk cinta Tuhan kepada kita umatnya, umat Kristen di Tanah Papua. Selalu menjadi rumah dari awal hingga kini, membawa pemahaman tentang perdamaian dan toleransi. Perbedaan yang menyatukan bukan menghancurkan. Umat Kristen di Tanah Papua menjadi berwarna,  karna keberagaman suku, keberagaman sinode, bahkan toleransi antar umat beragama. Salam toleransi !

#HutPiMansinam168thn #MansinamSebagaiRumahKitaBersa

Profil Penulis

Penulis artikel ini bernama lengkap Rosmaina Julianti Nadapdap, dan biasa dipanggil “Juli”.  Penulis adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan di Universitas Papua yang berasal dari suku Batak, dan datang langsung dari Medan, Sumatera Utara. Saat ini penulis berdomisili di kota studinya Manokwari, Papua Barat. Jurusan dan Program Studi  yang di ambil di Universitas Papua adalah Sarjana Kehutanan saat ini akan menempuh semester empat.

Penulis merupakan anggota Ikatan Mahasiswa Batak di Universitas Papua dan berperan sebagai anggota divisi Kewirausahaan dan Usaha Dana. Selain itu, penulis juga menulis blog berupa blog pribadi yang berisi informasi, opini, puisi, atau apa saja untuk dibaca. Ditulis sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap tulisan, hutan, dan lingkungan sebagaimana penulis kepada dirinya sendiri.  

Penulis juga aktif menggunakan media sosial seperti Instagram yang bisa Anda temukan dengan username @yuyangki. Untuk terhubung, Rosmaina Julianti Nadapdap juga dapat di temukan di LinkedId.


7 tanggapan untuk “Cinta Kasih Dan Toleransi Pulau Mansinam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *