free page hit counter

BANGUN PERSAUDARAN DARI MANSINAM CIPTAKAN TANAH PAPUA YANG HEBAT DAN INDONESIA YANG KUAT


Oleh : Jefri S. Tandililing

“Bukan dengan pesawat terbang, bukan pula dengan kapal yang mewah, hanya dengan sebuah kapal layar saja, Ottow dan Geissler tiba di pulau mansinam. Mansinam oh Mansinam kau menyimpan kenangan dan rahasia Allah, Mansinam oh Mansinam di pantaimu berlabuh bahtera injil Allah.” Sepenggal syair dan lirik kata dalam lagu milik sang musisi kawakan Papua, Wem E. Meosido ini akan senantiasa mengingatkan kita tentang pulau Mansiman, pulau yang bersejarah bagi masyarakat Papua bahkan bagi siapa saja yang mendiami tanah diujung timur Nusantara.

Ya, bagi mereka yang pernah mendiami atau berkunjung ke tanah Papua, khususnya di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, pasti tau akan keberadaan dan sejarah pulau Mansinam. Dari pulau yang terletak di teluk Doreri, berhadapan dengan kota Manokwari, injil Allah diberitakan ke seluruh pelosok tanah Papua dan tabir kegelapan mulai terbuka. Catatan sejarah menjelaskan, jejak dan tapak pekabaran injil dimulai Pada tanggal 05 Februari 1855 silam. Pada saat itu, dua misionaris berkebangsaan Jerman yakni Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki mereka untuk pertama kalinya di ‘Bumi Cenderawasih’ setelah menempuh perjalanan panjang dengan menggunakan kapal layar yang menyinggahi Batavia dan Ternate.

Lewat doa sulung “In Gottes Namen Bettraten Wir Das Land” (Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini) dan berbekal iman, doa, kasih serta pengharapan, sebagai misionaris dan utusan Allah, Ottow bersama sahabatnya Geissler datang untuk memberitakan kabar baik yang tertulis di dalam kitab injil kepada masyarakat setempat yang masih primitif. Namun lebih dari itu, mereka juga melakukan tugas mulia lainnya seperti mengajar dan berbaur bersama masyarakat. Dari sinilah, seiring dengan merekahnya sang mentari, peradaban bagi orang Papua dimulai.

Melihat dari dekat, Mansinam merupakan pulau yang mempesona. Keindahannya merupakan anugerah dari Sang Pencipta. Banyak peninggalan sejarah yang dapat dengan mudah kita jumpai disini. Berkunjung ke pulau Mansinam, kita akan disambut dengan deburan ombak dan ‘lambaian’ daun pohon kelapa. Ada juga monumen salib besar dibibir pantai sebagai penanda tempat pendaratan para penginjil, seakan menjadi gerbang masuk di pulau Mansinam. Selain monument tersebut, ada juga gereja tua yang dapat dijadikan sebagai pengingat betapa gigihnya perjuangan para rasul penginjil. Tepat disebelahnya, terdapat sumur tua yang fenomenal dan masih digunakan oleh masyarakat sampai saat ini. Konon katanya, bagi siapa saja yang menderita sakit, dapat sembuh jika mengkonsumsi air dari sumur tersebut. Sedikit berjalan mendaki bukit, kita juga akan menemui gereja Epicentrum yang selalu digunakan sebagai lokasi pusat ibadah peringatan HUT Pekabaran Injil di Tanah Papua. Lalu menelusuri ruas jalan beton menuju puncak Mansinam, kita akan melihat sebuah Patung Yesus Kristus berukuran besar. Patung yang biasa disebut “Kristus Raja” itu, dibuat oleh pemerintah dan merupakan satu gagasan positif untuk menghargai sejarah pekabaran injil serta peradaban bagi masyarakat Papua yang di mulai dari pulau Mansinam. Patung Yesus ini juga nampak berdiri dengan megah diatas topangan tiang beton yang memiliki ukiran khas Papua. Menjulang tinggi dengan tangan terbuka, Patung Yesus Kristus ini seakan penuh kasih memberkati serta menerima siapapun yang berkunjung ke pulau Mansinam.

Pulau Mansinam kini tak hanya menjadi milik dan rumah dari satu suku tertentu saja, tetapi lebih dari itu, Pulau Mansinam dengan sejuta pesonanya merupakan “rumah besar” milik bersama. Bahkan di bulan September tahun 2022 lalu, Pulau Mansinam sempat dikunjungi oleh Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Ishfah Abidal Aziz. Ia pun Nampak terlihat memuji keramahan dan kebaikan warga pulau Mansinam lewat kata-katanya “yang saya dapatkan di Mansinam, di Manokwari bahkan di Papua Barat hanyalah keramahan, ketulusan, kebaikan dan kasih yang sangat mulia dari masyarakat Papua”. Menariknya, disampaikan pula bahwa dari pulau Mansinam, tanah Papua layak menjadi contoh dan laboratorium kerukunan di Indonesia. Menurutnya, siapa saja tanpa terkecuali yang hendak belajar soal kerukunan, bisa berkunjung ke Mansinam, bisa juga ke tanah Papua pada umumnya. Hal ini dikatakan bukan tanpa alasan, pulau Mansinam terlihat telah menjadi sentra dan memainkan perannya tersendiri. kita ambil contoh Provinsi Papua Barat, beberapa tahun lalu dalam nilai indeks kerukunan umat beragama, berhasil menduduki urutan pertama dengan perolehan angka diatas 82 persen. Sedangkan ditahun 2022, Provinsi Papua berhasil menduduki urutan kedua nasional dibawah Provinsi Sulawesi Utara. Dua contoh itu membuktikan bahwa tanah Papua merupakan tanah penuh damai, masyarakatnya penuh cinta kasih.

LAMPIRAN FOTO : Kunjungan Staf Khusus Menteri Agama RI, Ishfah Abidal Aziz ke Pulau Mansinam, September 2022. Pukul 11.00 WIT ( Foto adalah Original milik penulis)

Ucapan Stafsus Menteri Agama Republik Indonesia ini juga sejalan dengan ungkapan yang pernah disampaikan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Barat, Pendeta Sadrak Simbiak dalam berbagai dialog kerukunan. Ia menyebut “Kerukunan di Papua sebenarnya sudah ada sejak zaman leluhur dahulu kala dengan kearifan-kearifan lokal yang sangat dijunjung tinggi sampai saat ini, dan tugas generasi penerus adalah menjaga serta merawat termasuk menceritakan dan mewariskannya lagi bagi anak cucu”.

Lewat pulau Mansinam, siapapun yang mendiami tanah Papua, wajib menjunjung tinggi nilai-nilai kasih, mencerminkan pola hidup yang mengusung toleransi antar sesama agar tercipta kedamaian di tanah Papua. Karena adalah penting, hal kasih yang dilandasi dengan iman, doa dan pengharapan yang sudah ditanamkan oleh Ottow dan Geissler harus senantiasa terpelihara. Penting juga kita mengingat kata dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, Luksen Jems Mayor, S.Sos, M.A.P yang selalu mengajak masyarakat untuk menerapkan gemar papeda atau dalam artian “Gerakan Masyarakat Papua Penuh Damai”. Lewat gerakan ini, nilai-nilai positif, nilai-nilai kebaikan dan kedamaian yang telah ditanamkan oleh para penginjil harus terus disebar. Dari perjuangan dua rasul Ottow dan Geissler, Tanah Papua telah dimenangkan oleh Injil Kristus lewat doa dan pelayanan yang holistik, sehingga siapapun yang mendiami tanah ini, harus mampu berkarya dan tetap menjadi berkat bagi sesama juga bagi tanah Papua itu sendiri meskipun Papua terdiri dari masyarakat yang majemuk dengan beragam suku, bahasa dan agama.

Kini, Lewat momentum perayaan hari ulang tahun pekabaran injil ke 168 yang akan diperingati pada 05 Februari 2023, seluruh umat beragama di daerah ini juga terus dihimbau untuk menjaga tradisi saling percaya guna mewujudkan Indonesia yang pluralis dan Indonesia yang berakhlak sesuai dengan komitmen bersama yang telah dibangun untuk mewujudkan Papua tanah damai. Apalagi dilain sisi, ada juga semboyan persatuan yang sangat terkenal yakni “satu tungku tiga batu” dalam menjaga persaudaraan. sebab jika ditilik secara seksama, kehidupan antarumat beragama yang kondusif, kedamaian dan kerukunan dapat dijadikan sebagai satu modal utama dan modal yang besar untuk membangun bangsa, membangun tanah Papua yang lebih sejahtera dan berkeadilan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga, toleransi kerukunan antarumat beragama di tanah Papua menjadi nilai penting untuk saling menghormati agama yang dianut setiap masyarakat dengan mengembangkan konsep dasar persaudaraan tanpa memandang perbedaan. Salam kerukunan!.

Assalamualaikum Wr, Wb.

Shalom, Salam Sejahtera untuk kita sekalian,

Om Swastiastu,

Namo Buddhaya,

Salam Kebajiakan.

            Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan sang pencipta. Izinkan saya sebagai penulis artikel berjudul “BANGUN PERSAUDARAN DARI MANSINAM CIPTAKAN TANAH PAPUA YANG HEBAT, INDONESIA KUAT” memperkenalkan diri saya lewat biografi singkat ini.

            Penulis bernama lengkap Jefri S. Tandililing, dilahirkan di Manokwari pada 16 Januari 1993 dan tumbuh besarpun juga di Kota Manokwari. Penulis lahir dari rahim ibu berparas cantik bernama Polina Duma dan Ayah nan gagah bernama Simon Tandililing atau dikalangan suku Toraja yang mendiami Kabupaten Manokwari akrab disapa “Tete”. Keduanya merupakan darah Toraja, Sulawesi Selatan, yang telah tinggal dan menghabiskan waktunya di Manokwari hampir setengah abad. Ditengah kehidupan keluarga yang penuh kesederhanaan, penulis juga memiliki seorang adik kandung perempuan yang bernama Jeanifer Gita Tandililing.

            Ayah dari penulis sendiri merupakan pensiunan pegawai negeri sipil yang pernah bekerja dan mengabdi di Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Teluk Bintuni. Atas pengabdiannya yang gigih itu, ayah penulis pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI Joko Widodo, berupa Satya Lencana Karyasatya pengabdian 30 tahun. Sedangkan ibunda dari penulis merupakan seorang ibu rumah tangga yang setia mendampingi suami dan merawat anak-anaknya.

Semasa kecil, Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Sanggeng, lalu dilanjutkan ke SMP Negeri 01 Manokwari. Setelah itu penulis menempuh pendidikan menengah atas di SMK Negeri 02 Manokwari. Penulis juga sempat mengenyam pendidikan di bangku perkulihan hingga tamat pada tahun 2014 dan mendapat gelar strata 1 (S1) Komputer pada kampus STMIK DIPANEGARA Makassar yang kini sudah berganti nama menjadi Universitas DIPA Makassar.

Setelah menamatkan seluruh jenjang pendidikan hingga S1, Penulis kemudian dipercayakan untuk bekerja sebagai wartawan selama 6 tahun di salah satu perusahaan swasta di Kabupaten Manokwari yang bergerak dibidang news dan entertainment. Perusahaan itu adalah Kasuari Channel yang dahulunya bernama Tasindo TV. Selain itu, penulis juga sempat merasakan menjadi wartawan di salah satu media online hingga medio akhir 2020. Semasa menjalani tugas sebagai seorang wartawan, penulis aktif dibeberapa pos peliputan seperti sosial budaya, pendidikan, olahraga, hukum dan kriminal hingga ke pos pemerintahan baik dilingkungan pemerintah kabupaten Manokwari maupun pemerintah provinsi Papua Barat.

Selepas berkiprah dari dunia jurnalistik, di penghujung tahun 2020, lewat hobi dan kegemaran dalam menulis, penulis dipercayakan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara serta masyarakat di tempat kerja yang baru. Saat ini, penulis berstatus sebagai Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat dengan satuan kerja di bidang Kehumasan.

Selain fokus dalam bekerja, penulis juga fokus dalam membina rumah tangga yang telah dibangun sejak Maret 2020. Penulis mempersunting gadis manis asal Teluk Wondama yang bernama Gelori, anak pertama dari buah pernikahan pasangan Yohanis dan Bertha Ruru. Setelah berdomisili di Kompleks Sanggeng selama 28 tahun lamanya, kini penulis telah berpindah tempat tinggal dan berdomisili di wilayah Wosi Dalam.

Dari pernikahannya, penulis dan sang istri dikaruniai gadis mungil yang cantik dan diberi nama Margareth Bellvania Marchella Tandililing. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain. Chella sapaan anak penulis harus kembali kehadapan sang pencipta pada Juli 2021.

Lahir dari keluarga kalangan Kristen Protestan, Penulis memegang teguh satu ayat firman Tuhan yang terangkat dari kitab Yesaya 41 : 10 “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”.  

Penulispun berharap, lewat lomba karya kreatif yang digagas oleh Duta Damai Papua Barat, akan semakin banyak lahir penulis-penulis handal dari Papua Barat yang senantiasa menyampaikan pesan-pesan kedamaian dan pesan-pesan kerukunan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *